SEKOLAH RAKYAT

abstrak

SEKOLAH RAKYAT ,sekolah yang berdiri pada masa penjajahan jepang atau yang lebih dikenal dengana nama jepang nya ‘’KOKUMIN GAKKO ‘’, saya teringat akan cerita oleh kakek saya yang dulunya adalah lulusan dari sekolah rakayat (SR), beliau mengatakan; betapa bersyukurnya cucuku tidak merasakan apa yang saya rasakan semasa saya menempuh pendidikan semasa jaman jepang, jadi belajarlah yang rajin agar masa depanmu lebih baik dari kakekmu yang alami sekarang. Dalam benaka saya bertanya-tanya sekolah (SR) itu seperti apa.? Ternyata bawasanya sekolah (SR) sangat berbeda jauh dengan apa yang saya alami, beliau katakan dalam satu (1) kelas satu (1) mengajar yang menguasai semua bidang sampai yang lulus , bahkan pada masanya kakek saya belum mendapatkan sebuah buku, yang digunakan sebagai media dalam menepuh pendidikan nya, yang digunakan adalah sebuah daun pisang digunakan sebagai buku, dan pensilnya sebuah lidi pohon kelapa, bahkan saya hampir tidak percaya apa yang dialaminya, namun itulah fakat yang terjadi. Bahkan setelah lulus, untuk menempuh pendidikan tingkat selanjutnya hanya orang-orang tertentu yang dapat melanjutkannya, rakyat biasa tidak dapat melanjutkan, yang dapat hanyalah anak dari pak Lurah,dan tiagkatan yang lebih atas lagi serta bangsawan –bangsawan. Setelah mendengar cerita masa pendidikan beliau, saya menjadi termotivasi untuk lebih giat lagi dalam menimba ilmu. Namun patut kita sadari keberadaan sekolah tersebut pada jaman itu, membawa dampak positif bagi bangsa indonesia. sekolah rakyat yang dibangun oleh insiatif rakyat, untuk membantu rakyat yang kurang mampu kemerdekaan ternyata masih ada. Terbukti dengan adanya Yayasan Sekolah Rakyat Indonesia (YSRI) cikal bakal berdirinya Sekolah Rakyat Ancol (SRA) yang kini sudah meluluskan ratusan siswa didik putus sekolah. Sekolah Rakyat yang harusnya hanya ada pada zaman penjajahan, tapi kini di zaman merintah Indonesia untuk terus memajukan pendidikan yang merata untuk semua masyarakat miskin.

 

 

Sekolah Rakyat

Saya mulai menulis artikel ini dengan suatu pembahasan tentang “Sekolah Rakyat”. Mengapa “Sekolah Rakyat?” Karena, ini adalah sebagian perjuangan para pejuang kemerdekaan yang tak pernah berhenti berjuang dengan mendirikan satu sekolah yang disebut “Sekolah Rakyat”. Sekolah yang dibangun dan didirikan atas swadaya dari rakyat dan prakarsa para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Para pejuang sebagaimana para pejuang kemerdekaan adalah orang-orang yang umumnya tidak sempat menjalani pendidikan tinggi. Mereka kebanyakan hanya lulusan Sekolah ELS (Eurospeesh Lagere School) atau disebut juga HIS (Hollandsch Inlandsch School). Ada juga HBS (Hogere Burger School), AMS (Algemeen Metddelbare School), Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School), Sekolah lanjutan untuk Sekolah Desa (Vervolksch School) Sekolah peralihan (Schakel School), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Hanya sedikit para pejuang kemerdekaan yang mengecap pendidikan tinggi seperti di STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar selama tujuh tahun sebagai lanjutan MULO.
Ir  Soekarno Bapak proklamator Bangsa Indonesia menyelesaikan sekolah di perguruan tingggi THS (Technische Hooge School) atau Sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Drs Mohammad Hatta dan banyak para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia menamatkan sekolah di perguruan tinggi di Negeri Belanda. Meskipun para pejuang kemerdekaan Negara Indonesia tidak sempat menjalani pendidikan yang memadai. Namun, melihat kondisi bangsa Indonesia pada saat itu di mana pemerintah telah membangun Sekolah Dasar yang disebut Sekolah Dasar Negeri  Inpres karena dibangun atas Instruksi Presiden Republik Indonesia. Namun, dengan mulai banyaknya anak-anak lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) masih sedikit jumlahnya. Biasanya hanya ada satu Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) yang ada di Ibu Kota Kecamatan yang jaraknya sangat jauh. Dengan kondisi jalan yang memprihatinkan dan harus dilalui dengan menyeberang beberapa kali yang bila sedang musim hujan terjadi banjir dan tidak dapat dilalui. Kondisi yang memprihatinkan ini mendorong para pejuang kemerdekaan membentuk kepanitiaan untuk pembangunan Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) di desa-desa. Dengan status Sekolah Swasta dengan para tenaga guru dan pendidik yang dibantu dari guru-guru Sekolah Dasar di sekitarnya. Guru-guru dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan dan guru-guru dari TKS-BUTSI (Tenaga Kerja Sukarela-BUTSI).

Pada umumnya Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut akhirnya diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah dan statusnya menjadi Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri. Tak berhenti sampai di situ. Para pejuang kemerdekaan melanjutkan perjuangan untuk mendirikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang beberapa tahun kemudian juga pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah dan statusnya telah menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri. Kita sebagai anak bangsa patut memberi penghormatan bagi para pejuang kemerdekaan yang tak pernah berhenti berjuang secara ikhlas dan tanpa pamrih berjuang untuk negaranya bukan untuk merdeka dan mengusir penjajah. Tetapi, berjuang memerangi kebodohan dan keterbelakangan.

Artikel ini sebagai pembuka atas berbagai kondisi Bangsa Indonesia yang tengah berjuang memerangi Bangsa Indonesia dari belenggu kebodohan melalui pendidikan. Memerangi kondisi kekurangan gizi dan gizi buruk karena kemiskinan melalui pembangunan kesehatan dan sedang bersungguh-sungguh memperioritaskan pembangunan kesejahteraan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan negara Republik Indonesia. Namun, patut kita renungkan seluruh perjuangan para pejuang kemerdekaan. Para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia dan para pahlawan bangsa bila kondisi bangsa Indonesia kini justru mengalami kontradiksi.

Kontradiksi  Bangsa

Kontradiksi artinya adalah berlawanan. Jadi di sini pernyataan kontradiksi adalah pernyataan yang selalu berlawanan dengan pernyataan sebelumnya. Kontradiksi bukanlah sebuah negasi dari pernyataan. Tetapi, kontradiksi lebih mengacu pada pembuktian     suatu  pernyataan.

Kali ini kita ingin membuktikan satu demi satu kontradiksi bangsa Indonesia. Suatu pertentangan antara kondisi masa-masa awal kemerdekaan dengan kondisi bangsa Indonesia pada saat sekarang ini yang sama sekali berlawanan atau bersalahan.
Bila dahulu para pejuang kemerdekaan, para pendiri bangsa (the founding father) Indonesia, para pahlawan bangsa berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengorbankan jiwa dan raga, kini belakangan banyak pejuang yang merasa Bangsa Indonesia menjajah daerahnya dan ingin memisahkan diri dari Bangsa Indonesia yang merdeka. Bila para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia keluar masuk penjara dan menjadi tahanan penjajah Belanda lalu setelah Indonesia merdeka para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia kemudian berjuang mengisi kemerdekaan dengan menjadi pejabat dan pemimpin negara. Tapi, kini banyak para pejabat dan pemimpin serta mantan pejabat dan pemimpin yang dipenjara karena berbagai   tindakan                 mengkorupsi                       uang   negara.

Para pejuang kemerdekaan yang tak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena berperang untuk bangsanya merdeka ketika berjuang mengisi kemerdekaan membangun sekolah memerangi kebodohan dan keterbelakangan kini setelah pemerintah menyediakan dana pendidikan mencapai dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) malah dana-dana untuk membangun pendidikan itu banyak yang dikorupsi oleh orang-orang yang tinggi-tinggi pula pendidikannya.

Sudah lama sekali kita tidak melihat anak-anak bermain Petak Umpet, Petak Jongkok, Petak Banteng, Petak Patung, Petak Besi, Petak Kayu, Main Tembak-tembakan (Perang-perangan), Permainan Galah Asin (Gobak Sodor), Main Loncat Gunung, Main Gambaran, Ngadu Cupang, Gebokan, Tazos, Catur Inggris (Catur di Tanah), Ular Naga, Gasing, Congkak, Yoyo, Gundu, Lompat Tali dari Karet Gelang, Patok Lele, Main Kelereng, dan Main         Layang-layang.

Permainan itu diganti dengan permainan Game Online, Play Station, cerita Si Unyil dan Si Windu diganti dengan Upin dan Ipin, Satria Baja Hitam, Dora Emon, Si Encan, Berby, Naruto, dan segudang permainan robot dan peralatan modern lainnya. Ada stasiun televisi yang rajin menayangkan cerita-cerita rakyat, ada Bocah Petualang, Laptop Si Uyil dan lainnya. Peran nenek, ibu dan orang tua telah digantikan dengan mesin yang secara psikologis mengubah pola kedekatan dan kasih sayang orang tua dan keluarga.

Kita tidak ingin generasi dan Bangsa Indonesia kembali pada era masa lalu. Apalagi masa-masa ketika Bangsa Indonesia dalam belenggu penjajahan Belanda dan Jepang. Kita hanya ingin bangsa Indonesia mengambil spirit perjuangan para pejuang, para pendiri bangsa (the founding fouders) Indonesia dan para pahlawan bangsa. Kita tidak ingin genarasi dan bangsa Indonesia tetap dijajah oleh multi bangsa, dijajah melalui budaya, ekonomi, politik dan kedualatannya. Untuk mengenang dan menghargai para pejuang dan pahlawan Bangsa Indonesia itulah maka kita harus menghentikan berbagai kontradiksi Bangsa Indonesia. Kita harus menghentikannya saat ini juga. Kini Bangsa Indonesia memerlukan para pahlawan yang berjuang dengan gagah berani dan berkorban dalam membela kebenaran. Selamat berjuang para pahlawan Bangsa Indonesia.

Sekolah Rakyat (SR) pada zaman penjajahan Jepang, Sebelum berganti nama Sekolah Dasar (SD), SR sangat melekat sekali dengan pendidikan anak-anak Indonesia di masa itu. Tentu saja, kita terpana dengan kondisi saat ini, Indonesia sudah merdeka setengah abad lebih. Bahkan, sudah lima kali berganti presiden, tapi masih terdapat anak-anak kurang mampu yang tidak bisa mengeyam pendidikan dengan baik.

Memang ironis, tapi itulah potret nyata yang terjadi di negeri tercinta ini dan ini juga penyebab kemerosotan pendidikan Indonesia, dimana ditandai dengan meningkatnya jumlah anak putus sekolah usia SD. Belum lagi mereka yang tidak melanjutkan ke tingkat SMP. Penyebab utamanya adalah ketidakmampuan masalah biaya sekolah.

Atas dasar itu, upaya pihak-pihak terkait memberikan fasilitas untuk memutus rantai kemiskinan keluarga dengan mendirikan sekolah rakyat bagi orang miskin, patut diapresiasi. Yayasan Sekolah Rakyat Indonesia (YSRI) merupakan cikal bakal berdirinya Sekolah Rakyat Ancol (SRA) yang kini sudah meluluskan ratusan siswa didik putus sekolah. Yanuar yang merupakan ketua yayasan mengatakan, YSRI berdiri tidak sengaja dari sebuah keadaan. Waktu itu, krisis moneter melanda Tanah Air pada 1998. Ekonomi lesu, rakyat semakin miskin dan terpuruk, anak-anak seharusnya dijam-jam belajar berada di ruang kelas, bukan sibuk menjajakan dagangannya atau menawarkan jasa semir sepatu.

Akhirnya, pada 2001 lahirlah SMP terbuka yang diberi nama SRI (Sekolah Rakyat Indonesia), seperti dikutip dari buku “Membangun Impian Anak Negeri”. Pertama lima kelas dibuka dan lokasi kegiatan belajar mengajar menumpang di Masjid, kantor RW atau ruang apa saja yang bisa dipakai untuk menumpang 15 murid. Berangkat dari situ, mulailah YSRI mencari murid lainnya, mencari buku tambahan, dan mencari tenaga didik relawan yang berasal dari kalangan mahasiswa. Namun dalam perjalanannya bukanlah pekerjaan mudah. Meski ditawarkan cuma-cuma/gratis, tapi bukan jaminan mendapatkan murid dengan mudah.

Banyak orang tua tidak yakin bahwa keputusan memasukkan anaknya bersekolah merupakan langkah awal untuk menyongsong masa depan kehidupan yang lebib baik. Mereka lebih suka anaknya menjadi salah satu sumber instant pencaharian ekonomi keluarga. Tampak sekali bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan belum tumbuh di antara warga. Untuk mendapatkan murid, para guru harus berjalan berkeliling menelusuri gang-gang sempit dari rumah ke rumah mencari anaknya yang putus sekolah. Iming-iming gratis, tidak cukup membuat para orangtua tertarik dan mendaftarkan anaknya.

Pemerintah tak tahu berdirinya sekolah rakyat sejak 10 tahun silam yang berlokasi di Bekasi dan Ancol, hingga kini keberadaanya belum diketahui oleh pemerintah. Padahal, sekolah rakyat jelata itu, banyak meluluskan anak-anak miskin pinggiran ibu kota. Entah apa alasan Dirjen Pendidikan Dasar Kemendiknas, Suyanto yang hingga kini mengaku belum mengetahui keberadaan sekolah rakyat itu. Baginya, sekolah rakyat itu hanya sebuah brand image saja.

“Mungkin itu hanya sebuah brand image sama seperti sekolah duafa, sekolah miskin dan lainnya. Sekolah bagi orang yang kurang mampu”, ujar Suyanto kepada (okezone). Meski begitu, pemerintah sudah berupaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Jumlahnya tidak kecil, dan itu sudah ada sejak 2005. Untuk tahun 2012 ini mencapai peningkatan fantastis Rp23,59 triliun, jika sebelumnya hanya Rp16,81 triliun (2011). Dengan angka itu, mengapa masih ada masyarakat miskin yang hingga kini belum menikmati pendidikan layak. Praktisi pendidikan, Arif Rahman menilai, itulah potret pendidikan di Indonesia yang hingga saat ini masih sangat memprihatinkan.

Selain mahalnya biaya pendidikan saat ini, permasalahan yang banyak disoroti dalam dunia pendidikan saat ini adalah rendahnya fisik bangunan sekolah, sumber daya manusia (kualitas guru), kesejahteraan guru, prestasi siswa. Mahalnya biaya pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.  “Ya orang miskin tidak boleh sekolah. Pendidikan berkualitas tidak mungkin murah. Tetapi seharusnya siapa membayarnya?”, tanya Arif saat berbincang-bincang dengan okezone. Pemerintahlah yang sebenarnya berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu.

Menurutnya, pemerintah disini harus bertanggung jawab dari infrastruktur dan material. Dimana pemerintah mewajibkan belajar 9 tahun. Tak hanya itu saja selain pemerintah, LSM, masyarakat pada umumnya juga membantu. dan bagi yang berprestasi masuk ke sekolah negeri harus gratis. Ia melihat, lembaga yang peduli dalam mencerdaskan masyarakat kurang beruntung adalah Sekolah Rakyat Bekasi. Dimana sekolah ini menyadarkan kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak bangsa.  “Sekolah yang diperuntukan bagi masyarakat kurang mampu itu juga harus didukung oleh fasilitas sarana fisik, kualitas guru, prestasi siswa juga harus ditingkatkan, serta pemerataan pendidikan. Jangan sampai pemerintah menambahi jumlah warga miskin yang tidak bisa bersekolah,” jelas Arif. Karena itu, diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia.

Angka Putus Sekolah dunia seakan tercengang ketika mengetahui tingginya angka putus sekolah di Indonesia mulai dari jenjang sekolah dasar. Sebanyak 527.850 anak atau 1,7 persen dari 31,05 juta anak SD putus sekolah setiap tahunnya. Peringkat Indonesia dalam rilis yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNESCO), mengalami penurunan. Indeks pembangunan pendidikan Indonesia dalam EFA Global Monitoring Report 2011, peringkat Indonesia turun pada posisi ke-69 dari 127 negara.

Anak-anak putus sekolah usia SD dan yang tak dapat ke SMP tercatat 720.000 Siswa (18,4 persen) dari lulusan SD tiap tahunnya. Semua itu karena faktor ekonomi. Ada anak yang belum pernah sekolah, ada yang putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya. Setidaknya ada empat persoalan yang membuat angka putus sekolah masih cukup tinggi. Pertama, kemiskinan yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada Maret 2011, terdapat 30,02 juta orang miskin atau hanya turun 1 juta orang dibanding tahun sebelumnya. Kemiskinan jelas menjadi momok dalam dunia pendidikan. Bahkan, Bagian Perencanaan dan Penganggaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemendiknas mengungkapkan, saat ini jumlah siswa miskin di Indonesia hampir mencapai 50 juta. Jumlah tersebut terdiri dari 27,7 juta siswa di bangku tingkat SD, 10 juta siswa tingkat SMP, dan 7 juta siswa setingkat SMA. Dari jumlah itu, sedikitnya ada sekitar 2,7 juta siswa tingkat SD dan 2 juta siswa setingkat SMP yang terancam putus sekolah.

Referensi

Sumber internet

http://bloggerpurworejo.com/2009/08/mengenang-‘’kokumin-gakko’’-sekolah-rakyat-jaman-jepang/

http://suar.okezone.com/read/2012/02/15/283/576316/sekolah-rakyat-cermin-buruk-pendidikan-indonesia-2

http://pendis.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=6567

http://www.diketik.net/2012/02/sekolah-rakyat-sr-ternyata-masih-ada/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s